Kesehatan PSIKOLOGI

Mental Illness Bukan Tren, Ini Dia Bahaya Kalau Kamu Self Diagnosis

Guys, kalian pernah tidak sih lihat orang di sosial media yang mengaku kalau dia punya gangguan mental/mental illness? Padahal mereka belum pernah sama sekali datang ke ahlinya seperti psikolog/psikiater untuk sekadar konsultasi.

Kalau kamu menemukan orang seperti ini, kasih tahu dia untuk segera ke psikolog/psikiater, ya.

“Males, biayanya mahal, mending gua beliin skincare”.

Hmm, emang sih beli skincare penting biar wajah kamu glowing. Tapi ke psikolog/psikiater juga penting ya untuk kesehatan mental kamu dan sekarang kamu enggak perlu lagi harus mikirin biaya ke psikolog/psikiater yang mahal.

Karena sekarang BPJS Kesehatan sudah bisa digunakan untuk konsultasi ke psikolog/psikiater. Jadi tidak ada lagi alasan malas ke psikolog/psikiater karena biayanya mahal.

Kenapa Harus ke Psikolog/Psikiater?

Seseorang yang memiliki masalah kesehatan mental tidak boleh sembarangan melakukan diagnosis gangguan kesehatan mentalnya.

Karena yang boleh melakukan diagnosis kesehatan mental hanyalah seorang praktisi kesehatan mental, yaitu psikolog atau psikiater.

Bahkan seorang mahasiswa psikologi saja tidak memiliki wewenang untuk melakukan diagnosis kesehatan mental kepada dirinya sendiri.

Tetap harus ke psikolog/psikiater untuk melakukan konsultasi terkait diagnosis kondisi kesehatan mental agar bisa mendapatkan penanganan yang tepat.

Baca Juga: Percaya Zodiak Sampai Kepikiran? Hati-Hati Kamu Lagi Kena Efek Barnum

Bahaya Self Diagnosis

Menurut psikiater Dr. Srini Pillay, M.D yang berprofesi sebagai psikiater dengan pengalaman lebih dari 20 tahun, ada 6 bahaya yang akan muncul apabila seseorang melakukan self diagnosis. Berikut adalah beberapa bahaya jika seseorang melakukan self diagnosis:

1. Tidak dapat membedakan penyakit medis yang menyamar sebagai sindrom kejiwaan.

2. Meragukan kemampuan profesional (seperti dokter dan psikolog).

3. Kita mampu melihat dan mengenal diri sendiri, namun kita membutuhkan cermin untuk melihat diri kita lebih jelas. Dalam hal ini, dokter dan psikologlah yang berperan sebagai cermin.

4. Menganggap keadaan diri sendiri sangat buruk. Kenyataannya tidak seburuk itu atau bahkan baik-baik saja.

5. Tidak percaya dengan gejala psikologis yang sedang dialami (denial).

6. Apa yang dirasakan belum pasti berdampak kepada kehidupan sehari-hari, sehingga mungkin saja tidak termasuk ke dalam gangguan mental.

Nah, sekarang kalian sudah tahu kan guys apa saja bahaya dari melakukan self diagnosis.

Memang sih saat ini banyak simptom atau kriteria diagnostik gangguan mental yang tersebar luas di internet.

Tapi bukan berarti kamu boleh melakukan self diagnosis hanya dengan bermodalkan pengetahuan seperti itu saja ya guys.

Jika kamu merasakan bahwa mental kamu sedang tidak baik-baik saja, kamu bisa segera menghubungi atau datang ke psikolog/psikiater agar bisa mendapatkan diagnosis dan penanganan yang efektif.

Akhir kata

Mulai sekarang, yuk kita edukasi orang terdekat kita untuk tidak melakukan self diagnosis.

Perlu kita sadari bersama bahwa gangguan mental bukanlah sebuah tren yang harus kita ikuti dan miliki.

Karena saat ini kita harus bersama-sama untuk menggaungkan kesehatan mental. Itulah mengapa tiap tanggal 10 Oktober, kita selalu merayakan hari kesehatan mental sedunia. Yuk kita bersama-sama hindari self diagnosis.

.

.

Referensi: https://chataja.co.id/blog-detail/self-diagnosis

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *